PURBALINGGA – Duka mendalam menyelimuti wilayah lereng Gunung Slamet. Hujan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari (23-24/1/2026) memicu bencana banjir bandang dan tanah longsor yang dahsyat. Material longsor dari lereng gunung menyumbat aliran Sungai Kali Asat di Bambangan, hingga akhirnya jebol dan menerjang pemukiman di Desa Kutabawa, Serang, hingga Sangkanayu melalui aliran Sungai Soso.

Merespons tragedi kemanusiaan ini, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purbalingga bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) serta LAZISNU Purbalingga bergerak cepat menerobos jalur bencana untuk memantau situasi dan menyalurkan bantuan darurat.

"Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet saja, kami melihat langsung ada rumah warga yang roboh, ada yang rusak berat tertutup material, dan banyak yang memerlukan perbaikan segera. Ini adalah panggilan kemanusiaan bagi kita semua," ujar Ketua PCNU Purbalingga, H. Ulil Archam, saat meninjau titik kerusakan di Dusun 3 Sangkanayu.

Dampak bencana ini tercatat sangat masif di dua kecamatan. Di Desa Sangkanayu, sebanyak 78 rumah terdampak luapan, dua jembatan terputus, serta delapan kendaraan hanyut terbawa arus. Sementara di Desa Serang, kerusakan mencapai titik ekstrem; 48 rumah rusak berat dan tertimbun material lumpur serta batu setinggi satu meter, bahkan beberapa rumah di Dusun Kaliurip dilaporkan rata dengan tanah. Sebanyak 210 rumah dengan sekitar 500 jiwa kini terpaksa mengungsi ke Masjid Nurul Iman dan Villa Serang.

Kepala Cabang LAZISNU Purbalingga, Dwi Purwaningsih, menegaskan bahwa pihaknya telah mengaktivasi skema tanggap darurat. "Kami dari LAZISNU segera mengaktivasi posko kemanusiaan. Saat ini warga sangat membutuhkan bantuan mendesak, mulai dari bahan pangan hingga perlengkapan pembersihan rumah karena ribuan zak pupuk dan alat tani mereka hilang tersapu banjir," ungkapnya di tengah kepulan lumpur sisa banjir.

Bencana ini juga memakan korban jiwa. Seorang warga Desa Serang bernama Ibu Solehah (Si Sol) dinyatakan meninggal dunia, sementara satu warga lainnya mengalami luka berat. Secara ekonomi, warga lumpuh total setelah 110 hektar lahan pertanian di Kutabawa dan Serang gagal panen. Akses penghubung utama antara Kutabawa (Purbalingga) dan Clekatakan (Pemalang) juga ambruk total, menambah daftar panjang isolasi wilayah.

Melihat skala kerusakan yang begitu luas dan menyentuh sendi-sendi kehidupan warga, Ulil Archam mengeluarkan instruksi khusus kepada seluruh kader penggerak. "Atas nama PCNU, kami meminta semua lapisan masyarakat, khususnya jajaran pengurus NU mulai dari tingkat kabupaten hingga ranting di desa-desa, serta seluruh warga NU untuk menyisihkan sebagian rezekinya. Mari kita bantu sohibul musibah di sini melalui lembaga resmi kita, yaitu LAZISNU," tegasnya.

Hingga saat ini, upaya pemulihan terus dilakukan oleh tim gabungan TNI, Polri, BPBD, dan relawan LPBI NU. Alat berat telah diturunkan untuk membuka akses jalan kabupaten di Kutabawa yang tertutup material sepanjang 12 meter. Namun, tantangan besar masih membayangi, terutama di Dusun Gunung Malang yang masih terisolir akibat putusnya komunikasi, padamnya aliran listrik, dan krisis air bersih yang mulai mengancam kesehatan para pengungsi.

Dwi Purwaningsih menambahkan bahwa LAZISNU akan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar yang belum terjangkau. "Krisis air bersih menjadi ancaman serius bagi warga di pengungsian. Kami akan berupaya memastikan distribusi logistik tepat sasaran, terutama untuk anak-anak dan lansia yang rumahnya kini sudah tidak bisa ditempati lagi karena tertimbun batu dan kayu," tambahnya.

Secara visual, terlihat jelas adanya empat titik longsor di lereng Gunung Slamet yang menjadi pemicu utama petaka ini. Sembari menunggu akses menuju Dusun Gunung Malang terbuka sepenuhnya, tim medis dan logistik terus bersiaga di Posko Tanggap Darurat Desa Serang dan Sangkanayu untuk memberikan pertolongan pertama bagi warga yang mulai kelelahan secara fisik maupun psikis.

"Kepada warga yang terdampak, kami berharap untuk tetap sabar dan tawakal. Kami tidak akan tinggal diam. Segenap keluarga besar NU akan bergotong-royong demi memastikan saudara-saudara kita di Kutabawa, Serang, dan Sangkanayu bisa segera bangkit kembali dari masa sulit ini," pungkas Ulil Archam.

Kontributor : Fatkhul Fahmi Zain